Begitulah kehidupan.
Ada masa ketika kejujuran dikalahkan oleh kepentingan. Ada waktu ketika kebaikan tenggelam oleh hiruk-pikuk kebencian. Ada saat ketika orang benar justru dianggap salah, sementara kebohongan dipoles sedemikian indah hingga tampak seperti kebenaran.
Namun sejarah selalu mengajarkan satu hal: mendung tidak pernah mampu mematikan cahaya bulan. Ia hanya menutupinya untuk sementara.
Dalam perjalanan hidup, setiap insan akan bertemu dengan "mendung-mendung hitam". Bisa berupa kegagalan, fitnah, pengkhianatan, kemiskinan, kehilangan orang yang dicintai, bahkan keputusasaan yang nyaris meruntuhkan harapan. Semua itu bukan akhir dari perjalanan, melainkan ujian agar kita belajar membedakan antara cahaya yang sesungguhnya dengan cahaya yang hanya pantulan sesaat.
Purnama tidak pernah bersaing dengan awan. Ia tidak marah ketika ditutupi. Ia juga tidak kehilangan cahayanya hanya karena tak terlihat oleh manusia. Ia tetap bersinar, menunggu angin meniup pergi mendung yang menghalangi.
Begitu pula orang yang berpegang pada nilai, akhlak, dan keimanan. Ia tidak perlu sibuk membalas setiap hinaan. Tidak harus menjawab setiap fitnah. Tidak wajib memenangkan setiap perdebatan. Karena waktu adalah saksi paling jujur. Pada akhirnya, yang palsu akan runtuh oleh dirinya sendiri, sedangkan yang benar akan menemukan jalannya menuju cahaya.
Allah mengajarkan bahwa sesudah kesulitan selalu ada kemudahan. Maka jangan pernah mengira malam yang gelap adalah pertanda matahari telah mati, atau mendung adalah bukti purnama telah hilang. Semua hanyalah bagian dari siklus kehidupan yang mengajarkan kesabaran.
Maka, ketika hidup terasa pekat dan langit batin dipenuhi awan kelabu, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Mungkin Allah sedang menguji seberapa besar keyakinan kita bahwa cahaya itu masih ada, meski belum terlihat oleh mata.
Karena sesungguhnya, bukan purnama yang hilang. Kitalah yang sedang berdiri di balik mendung.
Hikmah:
Jadilah seperti purnama; tetap memancarkan cahaya meskipun berkali-kali tertutup awan. Sebab kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya pujian, melainkan oleh kemampuannya tetap bersinar ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.
